Pulau Togian

Sumber Foto: Flickr – Neil Liddle

Pulau Togian adalah salah satu kepulauan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Tojo Unauna, kabupaten pecahan dari Poso yang baru terbentuk pada awal tahun 2004. Beberapa aksi wisata yang dapat dilakukan di Pulau Togian antara lain: Menyelam & Snorkelling (di Pulau Kadidiri); Memancing, serta menjelajah alam hutan yang ada di dalam hutan yang ada di Pulau Malenge, atau bisa mengunjungi gunung api Colo di Pulau Una-una.

Anda juga bisa mengunjungi pemukiman orang Bajo di Kabalutan. Dibentuk oleh aktivitas volkanis, pulau ini ditutupi oleh tumbuh-tumbuhan yang subur dan rimbun, serta dikelilingi oleh formasi bukit karang. Batu karang dan pantai menyediakan tempat bagi beberapa binatang laut untuk tinggal dan berkembang biak, seperti kura-kura hijau, dll. Lebih lanjut tentang pulau togian.

Bisa jadi kita lebih mengenal Taman Nasional Laut Bunaken di Sulawesi Utara, ketimbang Gugusan Kepulauan Togian, di Tojo Unauna, Sulawesi Tengah. Padahal, salah satu kawasan di Teluk Tomini ini lebih alami, indah dan asri. Terumbu karangnya begitu beragam, panorama alamnya sungguh memukau, dan rata-rata pantainya berpasir putih. Saatnya mengalihkan kunjungan wisata kita ke sana . Bisa diving, snorkeling, memancing ikan, lalu membakarnya sendiri atau sekadar menikmati mentari tenggelam dari tepian pantai.

“Kita sudah sampai di batas langit. Bau laut dan keindahan panoramanya begitu memukau.” Begitu Nudin Lasahido, seorang pemuda di Tojo Unauna menyatakan kekagumannya pada Kepulauan Togian. Betapa tidak dari jauh, gugusan pulau dengan dinding karang, hutan menghijau, pasir putih dan laut membiru langsung menumbuk mata kita. Tidak hanya itu, jajaran rumah-rumah To Bobongko dan Tau Bajo, dua suku laut di Kepulauan Togian terlihat menambah indah panorama. Rumah-rumah mereka berdiri di atas laut, di atas karang-karang dan di tepi pantai.

“Ini sepotong surga yang bisa kita temui di bumi.” Tambah Muhammad Ridwan, pemuda kelahiran Wakai, Tojo Unauna. Pemuda yang disapa Ridu itu, selalu membanggakan indahnya gugusan Kepulauan Togian. Ia juga membanggakan makanan khasnya, ikan bakar rica-rica. Ia juga menyatakan kekagumannya pada To Bobongko dan Tau Bajo, yang jago menyelam dan memanah ikan, serta masih memelihara kearifan tradisional dalam mengelola lingkungan dan laut mereka.

Jika punya banyak waktu, bolehlah berkelana ke pulau-pulau lain yang menawarkan keindahan sama. Ada pasir putih lembut, batu batu karang mencuat di antara perairan teluk yang tenang, serta sunset yang menyejukan mata dan hati.

MAW Brouwer, seorang budayawan dan penulis kelahiran Belanda, saking jatuh cintanya dengan Tanah Pasundan, Priyangan pernah menulis di awal 1970-an, “Tuhan pasti sambil tersenyum ketika ia menciptakan Tanah Priyangan.“ Kalau saja Brouwer sempat menyaksikan Togian, ia tentu akan menarik kembali kata-katanya.

“Kepulauan ini justru lebih indah daripada Bunaken di Sulawesi Utara,” kata Damsjik Ladjalani, Bupati Tojo Unauna. Hanya saja, imbuhnya, terkendala pada soal promosi. Bunaken sudah lebih maju dalam promosi, sehingga lebih banyak dikenal.
Saat saya berkunjung ke sana awal Maret lalu, kata-kata Bupati Damsjik memang terbukti. Togian lebih indah dari Bunaken, hanya saja kurang dipromosikan.

Kepulauan Togean yang memiliki hamparan terumbu karang terluas di Indonesia (sekitar 132.000 hektar) dikenal juga memiliki banyak spot penyelaman menakjubkan.

Togian sendiri sudah ditetapkan sebagai Taman Nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.418/Menhut-II/2004 tertanggal 19 Oktober 2004. Luasnya sekitar 362.605 hektare. Itu sudah termasuk 10.659 hektare hutan lindung buat pelestarian Mangrove.

Hasil survei Conservation International Indonesia (CII) pada 2001 menemukan 262 jenis terumbu karang di kawasan ini, 596 jenis ikan, dan 555 jenis moluska serta jenis langka lainnya seperti kima raksasa (tridacna gigas), penyu hijau (chelonia mygas), penyu sisik (eretmochelys imbriocata), lola (Trochus niloticus), dugong-dugong, dan paus pilot. Dari banyaknya jenis ikan itu, ada dua jenis yang dianggap endemik, yaitu ikan Paracheilinus togeanensis dan Ecsenius., artinya hanya ditemukan hidup di Togian.
Banyaknya ikan dan moluska tersebut mengindikasikan bahwa kondisi terumbu karang di perairan laut Togean masih bagus dan rimbun, sehingga menjadi pilihan menarik bagi banyak wisatawan dari berbagai penjuru dunia untuk melakukan diving dan snorkling.

Pada 1998 lalu tercatat lebih 7.000 wisatawan asing berkunjung ke Togian, namun menyusut drastis setelah pecah konflik bernuansa SARA di wilayah tetangga Kabupaten Poso pertengahan 2000.

Beruntung membaiknya situasi keamanan di sana kurun setahun terakhir, membuat arus wisatawan asing ke objek wisata ini kembali mengalir sekalipun belum seramai seperti sebelumnya.

Para wisatawan terlihat banyak menghabiskan waktu di sini untuk berjemur diri sekaligus menikmati ketenangan laut serta pemandangan alam terbuka yang menyejukkan, sebelum menuju ke titik-titik penyelaman menarik yang mencapai puluhan.

Pada beberapa pulau di Togian, terdapat hotel, penginapan, dan cottage dalam bentuk rumah panggung yang disediakan sejumlah pengusaha lokal dan asing (Italia), guna memudahkan para wisatawan menikmati berbagai aktivitas menyenangkan. Tarif sewanya pun bervariasi, antara Rp 150 ribu hingga Rp 400 ribu per hari.

Salah satu yang bisa direkomendasikan adalah Black Marlin Cottage, yang dikelola oleh Ais, seorang penduduk setempat. Black Marlin terletak di Pulau Kadidiri, salah satu bagian dari gugusan Kepulauan Togian. Dia juga punya Dive Center bernama sama yang dikelola oleh seorang instruktur selam asing.

Kepulauan Togian mempunyai berbagai jenis terumbu karang yang sangat indah. CI Indonesia, tercatat sekitar 262 jenis karang yang tergolong ke dalam 19 famili. Salah satunya adalah jenis endemik, yaitu Acropora togeanensis.

Dari total 91 jenis Acropora yang ditemukan di Indonesia (yang juga merupakan tertinggi di dunia), 78 di antaranya terdapat di Kepulauan Togian. Secara umum kondisi terumbu karang di 25 lokasi di Kepulauan Togian adalah 4 persen dalam kondisi Sangat Bagus (excellent), 16 persen bagus (good), 40 persen dalam konsisi sedang (moderate), 28 persen jelek (poor) dan 12 persen dalam kondisi jelek sekali (very poor). Tentu saja, Togian adalah surga bagi para penyelam. Tengok saja titik-titik penyelaman yang sudah kesohor di sana .

Salah satu titik penyelaman yang ramai adalah tempat jatunya pesawat pembon milik Belanda, B-24 Liberator. Pesawat itu terletak di kedalaman 16-22 meter dan dapat dicapai 1 jam saja dengan speed boat dari Kadidiri. Pesawat itu jatuh pada 3 Mei 1945 saat perjalanan pulang dari Makassar, Sulawesi Selatan setelah diserang oleh tentara Jepang.

Soal makanan jangan bingung. Segala yang berbau seafood ada di sini. Ikan bakar rica-rica atau cumi-cumi goreng selalu tersedia. Bisa pula kepiting kenari. Jika ingin lebih terasa petualangannya boleh memancing dan membakar sendiri ikan pancingannya. Atau bisa membeli dari nelayan hanya seharga Rp 15 ribu per kilogram.

Menuju Togian

Untuk mencapai Kepulauan Togian yang berada di tengah Teluk Tomini, dapat ditempuh melalui beberapa pintu masuk, antara lain Kota Palu kemudian menuju Ampana meliwati jalan darat 350 km, melewati Poso atau dari Luwuk (ibu kota Kabupaten Banggai yang berada di timur Provinsi Sulteng), dan Gorontalo dengan menggunakan pesawat udara.

Dari kota-kota ini, lalu kemudian menumpang kapal motor penyebrangan menuju Wakai (salah satu ibu kota kecamatan di Kepulauan Togean yang sering dijadikan ‘base camp’ wisatawan sebelum menuju spot-spot diving serta cottage di pulau-pulau kecil). Sewanya cuma Rp 23 ribu dengan KMP Tuna Tomini, kapal feri milik Dinas Perhubungan. Atau dengan menggunakan kapal-motor pelayaran rakyat atau kapal pesiar cepat seperti KM Lumba Lumba atau Baracuda dengan harga sewa yang sama.

Jarak tempuh perjalanan laut ini antara 1,5-4 jam, tergantung kendaraan laut yang dipergunakan.

Hitung-hitungan bagi wisatawan lokal, cukup murah. Dari Kota Palu ke Pulau Togean dapat menggunakan minibus dengan tarif Rp 40 ribu. Dengan mobil travel Rp 100 ribu, selama 7-8 jam sampai ke Ampana, melewati Kabupaten Parigi Moutong dan Poso. Dari Ampana menggunakan kapal motor selama 4 jam ke Wakai dengan tarif Rp 30 ribu – Rp 40 ribu. Dari Wakai sekitar 15 menit – 30 menit ke Kadidiri, Togian, dengan speed boat. Di Black Marlin Cottage di Kadidiri, Togian, rate untuk 1 malam untuk kamar standard Rp 120 ribu. Untuk yang deluxe Rp 150 ribu, sudah termasuk makan 3 kali sehari.

Dari Jakarta ke Palu, bisa memilih Lion Air, Wings Air, Sriwijawa Air, Merpati atau Batavia Air, lalu transit di Makassar, Sulawesi Selatan atau Balikpapan , Kalimantan Timur dan selanjutnya menuju Bandara Mutiara Palu. Dari Jakarta ke Makassar atau Balikpapan hanya 2 jam, lalu dari kedua kota itu ke Palu hanya memakan waktu paling lama 50 menit. Setelah itu barulah melanjutkan perjalanan ke Togian, melewati Parigi Moutong, Poso, Ampana hingga ke Wakai.

Agar tidak terlalu lelah, kita juga disarankan untuk bermalam semalam di Ampana atau Wakai. Kita bisa menikmati ikan bakar rica-rica dan beragam penganan dari hasil laut lainnya di sana . Harganya paling mahal Rp 20 ribu per porsi. Hitung-hitung menikmati makanan selamat datang.

Di Wakai, kita bisa menginap di rumah-rumah penduduk atau di cottage transit. Kita bisa melihat perkampungan asli suku laut Togian di sana . Kita akan melihat bagaimana mereka membangun rumah-rumah di atas aliran air laut atau payau.

Jadi rasa-rasanya, begitu murah. Berbeda dengan daerah-daerah tujuan wisata lainnya di Indonesia yang membutuhkan uang tidak sedikit.

Perjalanan dengan menggunakan kapal motor atau speed boat atau bisa pula perahu nelayan, juga memberikan pengalaman petualangan tersendiri. Kita bisa menikmati perasaan gamang dihantam gelombang. Karena meski takut, yakinlah kapal atau perahu yang kita tumpangi akan selamat sampai di tujuan. Sebab para nahkoda kapal atau nelayan paham benar irama alamnya. Kalau alam sedang tidak bersahabat, mereka tidak akan mungkin melayarkan kapal atau perahunya.

Pemkab Tojo-Unauna sendiri saat ini sudah berencana membangun bandara di Ampana untuk memudahkan akses para wisatawan asing dan domestik masuk ke Togian. Pembangunan bandara tersebut direncanakan selesai akhir tahun 2009.

Pemerintah daerah setempat juga berkeinginan menyediakan pesawat baling-baling yang bisa mendarat di atas air, agar lebih memudahkan para wisatawan bisa langsung ke Togean melalui bandara di kota-kota terdekat.

Festival Togian

Untuk mempromosikan Togian, Pemkab setempat sudah berencana menggelar Festival Togian pada 23-27 Juli mendatang.

“Sejumlah kelompok wisata mancanegara dan domestik mengagendakan kunjungannya pada Juli mendatang, dan biro-biro pariwisata pun terus mempromosikan agenda ini ke mancanegara. Karena itu saya pikir ketika berlangsung festival akan banyak turis asing yang datang,” Bupati Damsyik.

Festival Togean merupakan ajang tahunan yang digelar Pemkab Tojo-Unauna berisi berbagai kegiatan seni-budaya, olahraga tradisional, dan atraksi lainnya. Pesertanya berasal dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Sulteng, selain perwakilan asal provinsi tetangga.

“Bahkan, wisatawan asing pun bisa ikut menjadi peserta untuk memeriahkan festival ini, seperti tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

Sebagai informasi tambahan, bagi yang ingin tetap berkomunikasi, di sana hanya produk komunikasi seluler Indosatlah yang bisa dipakai. Mulai dari IM3, Mentari sampai Matrix.

0 Responses to “Pulau Togian”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: